dev mode

Daily News 16/06

June 16, 2011 No. 33
BFIN - Pinjaman bank

PT BFI Finance Indonesia (BFIN) berhasil mendapat fasilitas pinjaman bank senilai Rp 275 Miliar. Manajemen juga tengah mencari pinjaman bank asing senilai US$ 50 Juta hingga US$ 60 Juta yang dipimpin oleh Standard Chartered Bank dan Deutsche Bank. BFIN tengah melakukan book building terkaits rencana emisi obligasi III/2011 senilai total Rp 200 Miliar. Obligasi tersebut terdiri dari tranche A yang menawarkan kupon pada kisaran 8.75% - 9.25% dengan tenor 370 hari, tranche B yang menawarkan kupon pada kisaran 10% - 10.75% dengan tenor 2 tahun, dan tranche C yang menawarkan kupon pada kisaran 10.75% - 11.5%.
BNBR - Rencana investasi
PT Bakrie & Brothers (BNBR) berencana mengerjakan proyek senilai US$ 5 miliar dalam 3-5 tahun ke depan yang meliputi proyek pembangkit listrik, jalan tol, dan pipanisasi gas. BNBR mengalokasikan anggaran senilai US$ 2.5 Miliar untuk investasi pada proyek tenaga listrik. Untuk proyek pipanisasi gas dan jalan tol, perseroan membutuhkan dana senilai Rp 3.7 Triliun. BNBR berencana melaksanakan kuasi reorganisasi untuk menghapus-bukukan kerugian senilai Rp 38.2 Triliun akibat pembelian saham BUMI, ELTY, dan ENRG pada tahun 2008 yang semuanya merupakan saham perusahaan grup Bakrie.
KAEF - Rencana investasi
PT Kimia Farma (KAEF) akan mengakuisisi 51% saham perusahaan obat herbal, PT Sinkona Indonesia Lestari (SIL), senilai Rp 20-25 Miliar. Perusahaan menggunakan kas internal sebanyak 30% dari nilai akusisi, sisanya diambil dari pinjaman. Selain itu KAEF berencana menjalin kerjasama dengan BUMN China, Tian Jin King York untuk membangun pabrik injeksi dan hospital solution di Indonesia dengan nilai invetasi Rp 216 Miliar. Sementara itu KAEF akan membentuk joint ventures dengan Averroes (Malaysia) untuk membangun perusahaan waralaba. KAEF akan menjadi pemegang saham minoritas dalam JV tersebut.
SAIP - Skema restrukturisasi utang
PT Surabaya Agung Industri Pulp & Kertas (SAIP) berencana melakukan konversi utang senilai US$ 241.18 Juta melalui penerbitan 2.06 miliar lembar saham baru pada harga Rp 1,000 per lembar saham. Jumlah saham baru yang akan diterbitkan mencapai 59.7% dari jumlah saham yang ditempatkan dan disetor penuh. Dengan rencana tersebut, pemegang saham saat ini akan mengalami dilusi sebesar 72.3%.